Rabu, 14 Juli 2021

Gelombang Covid-19 Meradang; SEMUA RUMAH SAKIT KOTA MALANG MENOLAK KORBAN BERJATUHAN

NAGiNEWS,MALANG - Gelombang Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) setelah keluar Instruksi Menteri Dalam Negeri (Insmendagri) Nomor 15 Tahun 2021 tentang Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, pasien semakin membludak semua Rumah Sakit (RS) di Kota Malang penuh.

Sampai pasien Covid-19 Ibu Otto meninggal saat antrian di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang, Selasa dinihari pukul 02.00 WIB. Hal ini, merupakan sebuah pembelajaran berharga bagi masyarakat, terutama mereka yang kebingungan mencari RS rujukan.

Budi Suwarno (56), seorang warga Perum Bulan Bintang Terang Utama Blok KR 18 No. 10 Madyopuro, Kedungkandang pada Selasa (13/7/2021) berupaya mencari ambulans maupun rumah sakit rujukan. Namun, hasilnya nihil.

Puskesmas Gribig yang menjadi Puskesmas wilayah Madyopuro pun tidak bersedia memberikan layanan. Menurut informasi pihak keluarga, pihak Puskesmas menyatakan bahwa pengantaran ambulans dilakukan secara mandiri.

Saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, Camat Kedungkandang, Prayitno mengungkapkan bahwa SOP pengantaran pasien Covid-19 adalah ranah Public Safety Center (PSC). “Pelayanan ambulans untuk warga yang terpapar, SOP-nya adalah PSC dan dipastikan juga pasien sudah mendapatkan RS rujukan yang mau menerima", ujar Prayitno kepada wartawan saat dihubungi melalui sambungan seluler, Selasa (13/7/2021).

Prayitno menjelaskan, pasien yang diutamakan adalah pasien terkonfirmasi Covid-19 dibuktikan dengan hasil Swab dan keadaannya cukup parah.

Ketika PSC dihubungi relewan/wartawan, “Mohon maaf Ibu, untuk pengantaran saat ini, kami tidak bisa jika keluarga belum mencari rumah sakit dan pasien belum diterima di rumah sakit", jawab layanan PSC melalui Whatsapp.

Karena permohonan pelayanan ambulans nihil, akhirnya jalan pintas pun ditempuh. Pasien dilarikan ke rumah sakit menggunakan taksi online. Dengan bantuan relawan Media Online Indonesia (MOI), Roni Agustinus pihak keluarga membantu mencarikan rumah sakit rujukan yang bisa menerima pasien.

Rumah Sakit Lapangan yang berada di Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraoen menjadi tujuan pertama, karena kabarnya rumah sakit darurat ini sudah bisa dioperasikan untuk menampung pasien terpapar Covid-19. Namun ternyata faktanya di luar dugaan. “Rumah Sakit Lapangan di RST belum beroperasi. Dan berdasarkan info dari petugas jaga, pengoperasian adalah kebijakan dari pimpinan dan saat ini belum bisa meneria pasien Covid, kecuali dari TNI,” jelas Roni yang telah menjadi relewan juga sebagai wartawan.

Pasien Budi pun diupayakan ke Rumah Sakit Hermina. Namun lagi-lagi mereka juga tidak dapat menerima. Rumah sakit dengan tipe C itu, tidak dapat menampung karena sudah penuh dan tidak memiliki ventilator. Hal yang sama di Rumah Sakit Panti Waluyo Sawahan juga penuh.

Setelah mencari RS rujukan di Kota Malang yang semuanya penuh, alternatif terakhir adalah menuju RSSA.

Sesampai di sana, antrean kendaraan pribadi tampak mengular. Untungnya pasien membawa oksigen sendiri dari rumah, sehingga dalam antrian masih dapat bertahan meskipun saturasinya semakin menurun.

Ironisnya, tidak hanya mobil pribadi yang berjajar, namun terlihat pula Becak Motor (Bentor) yang turut dalam antrian. Tampak di atasnya pasien duduk lemas, tanpa ada oksigen dan fasilitas kesehatan penunjang lainnya.

Pemandangan mengerikan terjadi saat antre. Terdapat seorang pasien dalam antrean yang meninggal sebelum mendapat penanganan medis. “Tidak sekali ini, Mbak, pasien meninggal saat antre. Malah Minggu malam ada dua pasien yang meninggal bersamaan saat antre,” ucap seorang pengunjung yang mengaku sudah berada di rumah sakit sejak Minggu sore.

Suasana insiden seorang calon pasien meninggal saat antre masuk IGD RSSA Kota Malang.

Roni menceritakan kesulitan mencari rumah sakit rujukan, hingga berputar-putar sampai Kabupaten Malang, dan kesulitan mencari ambulans karena ketentuan pasien harus mendapatkan rumah sakit (dar/rik/ ris/oskar).

0 komentar:

Posting Komentar