Jumat, 29 Mei 2020

TAGAR INDONESIA TERSERAH; LELAH, JENUH ATAU MENYERAHKAH KITA


Kata “terserah” seringkali kita jumpai dan ungkapkan dalam keseharian apabila tidak ingin lagi untuk berpendapat atau memilih untuk mengikuti bergantung pada apa yang diputuskan dan dilakukan oleh orang lain. Dengan pertimbangan dan alasan bahwa pendapat kita juga toh tidak akan berpengaruh apa-apa untuk yang lainnya dalam membuat keputusan atau bahasa anak milenial adalah “bodo amat”. Terserah juga bisa berarti akan melalukan keputusan tersebut walau dengan setengah hati, karena itu bukan sesuatu yang diinginkan, tetapi terpaksa dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap keputusan itu.
Oleh : Matheus Gratiano, MPA.
(Dosen FISIPOL Universitas Widya Mataram Yogyakarta).
Tagar Indonesia Terserah yang viral akhir-akhir ini, bukan sekedar slogan tanpa sebab  untuk meramaikan media sosial, cetak maupun elektronik. Apalagi yang mampu diekspresikan jika sudah banyak regulasi disiapkan baik jangka pendek maupun jangka panjang, banyaknya peraturan sudah dan akan diberlakukan. Banyak anggaran yang digelontorkan, banyaknya orang yang semakin susah dan menderita, banyaknya korban terpapar Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang dirawat maupun meninggal yang bertambah di sekitar kita dan di daerah-daerah lainnya tetapi masih seolah menutup mata untuk itu semua. Terus mengabaikan baik dengan sengaja maupun “terpaksa” terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah dibuat dengan harapan mampu memutus mata rantai penyebaran virus ini dalam beberapa waktu kedepan.

Indonesia Terserah menggambarkan bentuk kepasrahan semua pihak, walaupun awalnya ramai pada postingan di media sosial bahwa ini, adalah ungkapan kekecewaan dan protes dari para tenaga medis terhadap ketidakpedulian kita terhadap aturan-aturan yang diimplementasikan oleh pemerintah. Selama ini, para dokter, perawat, serta petugas medis telah berusaha menyampaikan banyak imbauan dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya Covid-19. Pada kenyataanya, upaya tersebut belum mampu membuahkan hasil yang maksimal, terlihat dari pasar yang kembali ramai, jalanan kembali macet, pusat perbelanjaan yang dikerumuni oleh para pemburu diskon. Wajar jika mereka memprotes hal ini, karena pada saat mereka tidak hanya sedang berjuang menyelamatkan raga dan nyawa yang lain. Mereka meninggalkan kebahagiaan berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing. Selain bentuk kekecewaan dan protes dari tenaga medis, tagar ini merupakan ungkapan dari puncaknya bentuk segala keluh kesah, kekesalan, kebingungan serta sekalian kepasrahan dari masyarakat umum bernuansa emosi yang beragam, dari sekedar memberikan kritik kepada pemerintah, bahkan mungkin sampai pada taraf kecewa yang akut.

Kebijakan Pembatasan oleh Pemerintah seperti membatasi dan meliburkan sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, kegiatan sosial dan budaya, moda transportasi yang diterapakan oleh pemerintah dianggap tidak memiliki ketegasan dalam pelaksanaannya, sehingga massa berkerumun tetap bisa dijumpai di mana-mana seperti beberapa waktu lalu bisa melihat viralnya keramaian warga Jakarta pada penutupan McD Sarinah membuat miris bagi orang-orang yang selama ini disiplin berdiam diri di rumah. Antrian panjang pada Bandara Soekarno-Hatta, karena mengurusi validasi syarat perjalanan yang tidak memperhatikan protokol Covid-19 dikarenakan Bandara dan Penerbangan kembali di buka serta beberapa Mall dan Pusat Perbelanjaan yang diserbu oleh pengunjung berbelanja menjelang hari raya Lebaran. Walaupun dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PP PSBB) yang diperjelas dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 (Permenkes). Terdapat pengecualian bagi beberapa tempat pada sektor terkait pertahanan dan keamanan, ketertiban umum, kebutuhan pangan, Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas, pelayanan kesehatan, perekonomian, keuangan, komunikasi, industri, ekspor dan impor, distribusi,  logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Daerah yang melakukan penerapan PSBB terlihat masih bertahap dalam upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan PSBB yang masih berupa tindakan persuasif dan edukasi kepada masyarakat serta dalam menerapkan sanksi terhadap pelanggar aturan tersebut akan tetapi kedispilinan warga masyarakat sendiri dalam menghadapi situasi ini diharapkan menjadi kunci keberhasilan dari aturan-aturan ini.

Kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan jika melihat kerumunan massa akhir-akhir ini, apakah lebih memilih melanggar dan mendapatkan sanksi dari pada berpartisipasi dalam memutus mata rantai penularan virus ini, karena kita sudah lelah berdiam diri dan bertahan di rumah, karena sudah lama kita menggunakan tagar Stay at Home atau “Dirumah saja”. Tetapi yang lainnya masih juga berkeliaran dengan bebas di luar sana?,  ataukah apakah kita sudah jenuh dengan segala macam aturan yang dibuat tetapi tidak ditegaskan dengan sanksi bagi pelanggarnya? Apakah sudah menyerahkah dan harus siap hidup berdampingan dengan Covid-19 sebagai bagian dari New Normal?.

Jangan sampai nasib bangsa ini seperti kutipan Puisi “Pity the Nation (Kasihan Bangsa)” Karya maestro Kahlil Gibran bahwa “Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.......”. Sebagai manusia normal yang baru beradaptasi dengan sebuah situasi, juga baru seolah tidak normal tentu kita boleh mengatakan lelah dan jenuh dengan semua ini. Tetapi untuk kita semua tanpa terkecuali yang sedang berjuang demi banyak orang baik secara medis maupun non medis dengan cara kita masing-masing. Kata “terserah” bukanlah sebuah ungkapan yang patut diungkapkan dalam sebuah perjuangan seberat ini, karena itu adalah bentuk kepasrahan akan apa yang sedang dan akan terjadi dan siap untuk terjatuh dalam sebuah kegagalan. (Penulis Ketua Prodi Administrasi Publik Fisipol UWM Yogyakarta).

0 komentar:

Posting Komentar