Minggu, 24 November 2019

Mbak Tutut di Wini; PERBATASAN TIMOR LESTE TERIMA SEBAGAI KELUARGA


NAGiNEWS-ATAMBUA,Putri sulung Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana yang akrab disapa Mbak Tutut, memiliki kesan amat mendalam tentang Pulau Timor. Hal ini terungkap ketika mantan Menteri Sosial RI 1997 ini mengunjungi daerah perbatasan di Timor Leste, tepatnya di Wini, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara ((TTU) Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mbak Tutut (tengah) dalam balutan pakaian tradisional (tenun) Insana (Foto ; ist)
Antusiasme warga setempat menyambut kedatangan Mbak Tutut, menorehkan kenangan tersendiri. Apalagi selain disambut secara adat istiadat setempat oleh para raja sedaratan Timor, kehadiran Mbak Tutut disambut secara meriah tarian kolosal yang dipersembahkan massa siswa sekolah dasar, baik negeri maupun swasta di Kecamatan Insana Utara.
Mbak Tutut pose bersama tokoh masyarakat setempat (Foto : ist)
Tarian penjemputan tersebut bahkan dikoordinasikan salah seorang rohaniawan Katholik, Pater Theo dari Paroki St. Antonius Padua, Wini.

Kehadiran putri sulung Presiden Soeharto ke perbatasan, dalam rangka memberikan support kepada salah satu “anak kesayangan” Cendana, Yosef Falentinus Kebo, yang kini terjun ke kancah politik praktis.

Yosef Falentinus Kebo merupakan pensiunan TNI-AD dengan pangkat terakhir letnan kolonel. Ia rela melepaskan seragam militer secara dini lantaran berniat menggeluti politik praktis.

Mbak Tutut kala itu, merasa bahagia atas sambutan warga di perbatasan yang masih mencintainya. “Ternyata warga di sini masih menghormati saya sebagai keluarga,” kata Mbk Tutut.

Mbak Tutut, ingin memberikan support secara penuh terhadap Yosef Falentinus Kebo yang kini mencalonkan diri sebagai salah satu bakal calon bupati (Bacabup) di Kabupaten Timor Tengah Utara,(TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Yosef Falentinus Kebo, merasa terpanggil lantaran melihat kondisi daerahnya yang masih terbelakang jika dibandingkan dengan daerah disekitarnya.

“Atas pertimbangan rasionalitas tersebut, saya rela melepaskan seragam militer, dengan pangkat terakhir letkol, dan saya masih 17 tahun lagi mengabdi di TNI jika tidak pensiun dini,” ujar Falen panggilan akrabnya di temui di Menteng, Jakarta.

Perihal kedekatan dengan keluarga Cendana, dibangun sejak ia masih aktif sebagai anggota Kirab Remaja Nasional. Dari sinilah ia kemudian direkomendasikan untuk masuk AKABARI pada 1995.

Semenjak di militer, ia terus menjadi bagian dari keluarga besar Cendana. Bahkan jalinan kekeluargaan itu tetap terjaga hingga kini.

Apalagi, saat ini Falen menjabat sebagai salah satu kader Partai Berkarya. Selain itu, ia juga merencanakan Ketua Umum Pasukan Utama Kirab Remaja Nasional.

Jabatan tersebut semakin memantapkan putra asal Kecamatan Insana Utara, Kabupaten TTU kian dekat dengan Mbak Tutut.

“Saya kagum atas kewirausahaan Bunda (Mbak Tutut) yang selalu mendorong saya untuk lebih maju,” paparnya.

Para mantan Kirab Remaja Nasional (KRN) memanggil Mbak Tutut dengan sebutan Bunda. (yos/oskar).

0 komentar:

Posting Komentar